tahun baru

31 Dec

malam hari dirumah dhilla. semua teman-teman sudah bersiap-siap dengan trompet, barbeque dan semua persiapa sudah rapi dihalaman belakang.
draga : dhil, ini buat apa?.
dhilla : itu kakak kasih kevanka aja. biar dia yang ngurusin.

vianka : van, lo tolongin gw beresin meja dong.
kenna : eeh itu jangan dirapihin dulu, kan masih buat bikin ikan.
vianka : ok

semua masih terlihat sibuk menyambut detik-detik pergantian tahun. satu-persatu tamu datang dan memadati rumah dhilla.

dhilla : yang baru dateng bantuin di halaman belakang aja. cle lo bantuin bikin areng dong.
cleo : apa? gw suruh ngurusin areng? ga ada kerjaan lain apa?
dhilla : jangan mulai gila lagi cle…
cleo : ok.

pukul sebelas malam semua sudah bersiap-siap dihalaman. vianka, ruby,rendi, vanka cleo, lulu, dhilla, kenna, draga, raka dan beberapa teman-teman yang lainnya pun tertawa di halaman belakang rumah dhilla.
Pukul 23.59. semua memegang trompet dan petasan.
Semua : 10, 9, 8, 7, 5, 4, 3, 2, preeeeeeeeeeeeeet *suaratrompet. Duar…duar…. Duar…. *petasanmeluncur.
Raka menatap kelangit nan jauh disana.
Dhilla : masih inget sama dia?
Raka : masih. Tapi, aku bahagia.
Dhilla : bahagia? Kenapa?
Raka : karna setelah widi ngga ada, gw bisa ngedapetin bintang terindah setelah dia.
Dhilla : #terbangbersamawidi.

‎”hari pengganti”

17 Dec

langit mulai temaram
bahkan burung berhenti berkicau
karena kau terdiam…
membisu ditengah kegelapan

matahari tak mampu menyinarimu
lautan sorak-sorai tak bisa menyemangati mu
burungpun enggan bertemu
bahkan aku

kau masih diam
terpuruk dalam kubah penyeslan
masihkah ada hari esok?
untuk kau kembali menjulang…

masih nyanyian teredam
kebisingan suara hati
by anita nita

First Winter For You

14 Dec

Ide cerita ini dari someone buat aku. Awalnya Cuma pengen ngetest imajinasi dia, tapi ternyata ide dia bagus banget. Ya.. walaupun aku ampe gila nyari di internet negara mana yang winternya bulan Oktober. Jadi, jujur.. awal cerita ini idenya bukan dari aku. Aku sih udah punya gambaran sendiri, tapi mungkin akan terlalu panjang ceritanya, jadi pake cerita dia ajah. *kok jadi curhat sih?*
Oke deh, langsung ajah. Hope you guys like this. Happy reading ^^

FIRST WINTER FOR YOU

“Windi pingsan!! Ayo, siapa saja tolong!!” teriak Linda histeris. Aku segera menghampiri sumber suara dan melihat Windi memang terkulai tak berdaya. Tanpa aba-aba lagi, aku langsung menghampiri dan menggendongnya keluar kampus. Kubawa ia masuk ke mobilku. Kupacu kendaraan ini dengan cepat ke rumah sakit terdekat sekaligus rumah sakit tempat Windi diperiksa selama ini. Jantungku berdetak sangat cepat, secepat laju mobilku. Oh Tuhan, apakah ini saat terakhirnya? Tolong jangan ambil dia! Pintaku tulus pada Tuhan. Aku sangat mencintainya, kami telah menjalani hubungan selama lebih dari satu tahun dan aku benar-benar tak rela bila ia harus pergi.
Sampai di rumah sakit, kuserahkan pada security kunci mobilku dan kusuruh dia untuk memarkirkannya. Lalu aku menggendong Windi sambil berlari masuk. Saat itu aku sama sekali tidak berpikir bahkan tidak peduli tentang resiko memberikan kunci mobil pada orang yang tak kukenal
“Suster, tolong suster!” kataku pada dua orang suster yang lewat dengan benda yang mirip ranjang namun dapat didorong karena ada roda di bagian bawahnya, entah apa nama benda itu. Dengan sigap kedua suster tadi langsung berlari membawa Windi ke ICU. Aku mengikutinya dengan perasaan cemas. Sangat cemas!
Sampai di ruang ICU, pintu ditutup dan aku tidak diperbolehkan masuk. Jadi, mau tidak mau aku harus menunggu di luar. Saat ini, tak ada seorangpun yang dapat kukabari. Windi memang hidup sendirian. Orang tuanya sudah tiada, dan ia tidak memiliki sanak saudara sama sekali.
Tiga puluh menit berlalu, sang dokter telah keluar. Aku segera menghampirinya.
“Dok, gimana keadaan Windi? Dia baik-baik ajah kan? Dia gak kenapa-kenapa kan?” Berbagai pertanyaan kulemparkan tanpa memberikan kesempatan baginya untuk menjawab.
“Keadaannya makin parah. Ingat sekitar 4 atau 5 bulan yang lalu saya sarankan agar nona Windi menjalani operasi pengangkatan sel kanker? Waktu itu saya bilang kalau tidak segera dioperasi maka diprediksi umurnya tidak akan dapat bertahan lebih dari 6 bulan. Kini dilakukan operasi pun percuma. Hanya tinggal menunggu waktu dan berharap Tuhan akan memberikan keajaiban pada nona Windi,” kata sang dokter sambil berlalu pergi. Aku terdiam. Tak bisa diselamatkan lagi? Tidak mungkin! Dokter itu pembohong! Memang siapa dia, bisa menentukan umur seseorang seenaknya?! Windi pasti sembuh, HARUS!!
Aku langsung masuk ke ruang rawat Windi. Melihat Windi yang terkulai lemah, dengan wajah pucat dan tubuh yang benar-benar kurus, hatiku sangat perih. Tak sanggup melihatnya menderita, lebih tak sanggup lagi jika aku harus kehilangannya.
Windi terserang kanker hati stadium 4. Aku selalu membujuknya untuk melakukan operasi, tapi ia selalu menolak dengan alasan takut. Memang dokter telah mengingatkan sebelumnya bahwa operasi ini belum tentu berhasil. Kemungkinannya 50-50, dan jika tidak berhasil maka saat itulah Windi harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Itu sebabnya ia tidak pernah mau untuk dioperasi. Ia lebih memilih dipanggil secara perlahan oleh Sang Maha Kuasa daripada harus mengambil resiko yang sangat besar.
Kurasakan tangan Windi bergerak perlahan. Sedikit demi sedikit kulihat Windi membuka matanya.
“Raka?” Ia memanggil namaku.
“Apa sayang?” sahutku lembut.
“Sakit disini.” Ia menunjuk bagian antara dada dan perutnya. Disitulah organ hati kita tinggal. “Ka, apa aku akan mati?”
“Gak, kamu gak akan mati. Percaya sama aku, kamu pasti akan terus hidup.” Mataku sudah berkaca-kaca, air mata seakan siap keluar mengalir dengan derasnya. Aku memang payah. Tak seharusnya aku menangis di depan Windi.
“Tapi, tadi aku mimpi papa sama mama datang waktu kita lagi kencan di taman. Lalu semua jadi putih, kamu hilang. Lalu papa sama mama ngajak aku pergi bareng mereka. Aku punya firasat kalau aku akan ikut mere..”
“Sssttt!” Kutempelkan jari telunjukku di bibirnya yang mungil. “Itu Cuma mimpi, gak usah dipikirin. KAMU PASTI SEMBUH, oke? Sekarang kamu istirahat ya. Aku bakal jagain kamu disini.” Tanpa membantah sedikitpun, ia kembali memejamkan mata dan mulai tertidur.

***

“Sayang, makan dulu yuk!” ajakku sambil memasukkan sesuap bubur ke dalam mulutnya.
“Tawar, gak enak!” komentarnya.
“Bubur di rumah sakit memang kayak gini,” kataku.
“Gak mau ah! Aku udah lama gak makan coklat. Kangen coklat….” Ia berbicara dengan nada unggulannya, yaitu nada manja sampai membuatku benar-benar tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya.
“Ih, kangen coklat! Gak kangen sama aku nih?” tanyaku dengan nada ngambek.
“Dih, ngapain kangenin kamu? Justru aku udah bosen, ngeliat muka kamu tiap hari!” sahutnya sambil memeletkan lidah.
“Ih, nyebelin! Ya udahlah aku mau pergi ajah biar kamu happy!” Aku langsung beranjak pergi.
“Aaaaaa, jangan pergi. Temenin aku disini. Justru dengan kamu pergi, aku malah gak akan pernah ngerasa happy,” ucapnya lagi-lagi dengan nada yang bikin orang gemes. Kukecup keningnya lembut dan tersenyum.
“Aku janji, aku gak akan pernah pergi dari kamu. Selamanya sampai tua kita akan terus bareng. Janji?” Aku mengacungkan jari kelingkingku. Ia terdiam sesaat lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.
“Janji.” Ia tersenyum sangat lebar, hingga deretan gigi putih gingsulnya terlihat jelas. Kurangkul dia, dan kutempelkan bibirku di pucuk kepalanya. “Raka, mau tau gak? Dulu kata mama aku, aku dikasih nama kayak gini itu buat ingatin dia sama masa mudanya dulu sama papa. Dulu mereka pertama kali ketemu di saat awal salju turun, dan papa juga nembak mama pas disana. Makanya nama aku itu Windi Terasyumi, yang disingkat Winter,” ceritanya tiba-tiba.
“Hm, terus?” tanyaku penasaran. Windi memang tidak pernah menyinggung hal ini selama aku bersama dengannya.
“Setiap mama cerita tentang kisah hidup papa sama mama dulu, aku ngiriiii banget. Rasanya jadi pengen banget ngeliat salju langsung. Sayangnya, dari dulu papa sama mama aku sibuk terus, dan gak pernah ngijinin aku untuk keluar. Overprotective banget! Karena itu, aku mau lihat salju langsung sekali ajah, selama aku masih di kasih kesempatan hidup. Itu keinginan aku selama ini. Aku takut sebelum hal itu terwujud, Tuhan malah udah ambil nyawa aku duluan.” Raut wajahnya sangat tegar, sama sekali tak tersirat kesedihan atau pun ketakutan lagi di dalamnya.
“Windi, jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Aku gak suka. Kamu pasti sembuh! Aku janji sama kamu, setelah kamu diijinin keluar dari rumah sakit, aku akan minta papa untuk bawa kamu dan aku keluar negeri. Kita akan lihat salju pertama yang turun disana, asal kamu janji kamu gak akan pernah ngomong kayak gini lagi, dan kamu harus tetap berjuang buat hidup.” Baru sekarang matanya mulai terlihat berkaca-kaca, disusul dengan air matanya yang mengalir.
Ia mengusap air matanya dan berkata, “Oke, aku tunggu janji kamu!” sambil tersenyum.

***

“Raka, papa udah suruh orang untuk ngurus kepergian kamu dan Windi. Nanti soal biaya biar papa yang selesain,” kata papa di seberang sana. Orang tuaku memang sudah mengenal baik Windi. Bahkan Windi sudah di anggap sebagai anak sendiri. Papa menyuruhku menghubungi Marco. Ialah yang akan menjadi tour guide kami, dan mengurus segala keperluan kami.
Siang tadi, aku telah berbicara dengan Marco dan semuanya sudah oke. Katanya kami akan pergi ke Norwegia, karena katanya hanya disanalah dan sekitarnya yang memiliki awal musim dingin di tanggal 14 Oktober. Sekarang baru tanggal 5, itu berarti tidak sampai seminggu lagi aku akan pergi dengan Windi kesana. Semoga ia senang dengan hal ini.

***

10 Oktober, hari ini hari keberangkatanku bersama Windi. Kami berangkat dengan pesawat Boing 777-300 ER, dan harus berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 karena pesawat akan take off jam 06.00. Sepanjang perjalanan Windi terus bercerita betapa senangnya ia akhirnya keinginannya selama ia hidup ini akan terwujud. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
Pertama kami harus terbang ke Singapur, dan transit disana. Setelah itu baru dari Singapur kami terbang lagi ke Moscow. Perjalanan dari Singapur ke Moscow cukup lama, sekitar 10 jam. Karena Windi terlihat sudah lelah, aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku yang awalnya ingin mengajaknya pergi melihat-lihat. Aku menyewa dua buah kamar di salah satu hotel di Moscow, yaitu Radisson Royal Hotel. Segala pembayaran telah diurus Marco, jadi aku tidak perlu repot-repot berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Jujur saja, bahasa inggrisku tidak terlalu baik. Aku jadi menyesal dulu sering bolos saat ada pelajaran bahasa inggris. Itu karena aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah menggunakan bahasa itu dan pergi keluar negeri, ternyata aku salah.
Esok paginya pukul 03.00 tanggal 11 Oktober, kami berangkat dari Moscow langsung menuju Oslo, ibukota sekaligus kota terbesar di Norwegia. Perjalanan memang tidak terlalu lama, sekitar 4-5 jam. Dan begitu kami tiba, kami langsung mencari sebuah hotel untuk menginap. Sebenarnya sih Marco yang mencari, aku hanya cukup terima jadi. Kami menginat di hotel Radisson Blu Scandinavia Hotel. Hotel ini sangat besar, dan mewah. dengar-dengar harganya mencapai US$ 213 perhari, perkamar. Benar-benar harga yang sangat ‘wow’! Tapi sepadan dengan pelayanan yang diberikan.
Kota ini memang padat, tapi indah. Terutama di malam hari. Cahaya-cahaya yang menerangi gelapnya malam, terlihat seperti kunang-kunang. Di Oslo juga terdapat banyak sekali museum-museum. Awalnya aku ingin menyuruh Windi untuk istirahat dahulu sejenak, tapi ia menolak setelah mendengar penjelasan Marco tentang indahnya kota Oslo. Ia malah merengek kepadaku untuk membawanya jalan-jalan.
“Iya, iya. Dasar nyusahin!” Kujitak pelan kepalanya saat ia mengeluarkan jurus ancamannya yang ampuh itu. Ia hanya membalas dengan cengiran lebar.
Saat kami sedang berjalan-jalan biasa di taman sekitar hotel, seseorang memberikan brosur mengenai air terjun Voringsfossen. Windi jadi ingin sekali kesana, dan terus merengek padaku agar aku mengijinkan, tapi tentu saja TIDAK! Air terjun itu memang sangat indah, dan menarik hati, tapi terletak di tempat yang agak ‘dalam’. Butuh waktu beberapa lama sambil berjalan untuk melihat air terjun itu. Dan dengan kondisi tubuh Windi, hanya orang yang tidak waras saja yang akan mengijinkan. Apalagi, sebentar lagi Norwegia akan memasuki musim salju, otomatis cuacanya akan sangat dingin.
Windi terus merengek padaku. Bahkan dengan ancaman kesehariannya yang menyatakan bahwa ia tidak akan makan, dll saja aku tak peduli. Hal ini terlalu berbahaya untuknya. Marco menyaksikan pertengkaran kami. Ia menghampiriku, dan berbisik padaku.
“Ide bagus!” pujiku padanya dengan nada berbisik. “Aku akan tunjukkin ke kamu hal yang lebih indah. Tapi, sepanjang perjalanan kesana kamu harus tutup mata ya. Karena ini kejutan,” pintaku pada Windi, dan Windi menyanggupinya. Matanya ditutup dengan sebuah kain, dan ia berjalan sambil dituntun oleh tanganku.
Pertama kami pergi dengan mobil sewaan ke suatu tempat. Sesampainya kami keluar dari mobil dan menunggu di salah satu kafe kecil yang ada di dekat situ. Marco pergi ke suatu tempat untuk mengurus keperluan rencananya.
“Raka, aku udah boleh buka penutup matanya belum? Gak enak nih begini terus,” tanyanya begitu aku kembali dari kasir.
“Sabar dong. Bentar lagi kok.” Aku memberikannya sebotol air mineral yang tadi kubeli. Membeli minum saja butuh perjuangan berat karena aku sama sekali tidak mengerti bahasa mereka, dan hanya bisa sedikit bahasa inggris. Masalahnya, pelayan kasir tadi sama sekali tidak bisa bahasa inggris. Jadilah kami layaknya orang bodoh, dan butuh beberapa waktu lamanya untuk menyambungkan maksud kami.
Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, Mario datang juga. Ia datang dengan dua orang pria yang terlihat rapi dengan seragamnya. Kedua pria itu bicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Aku bertanya pada Marco apa maksud dari ucapan mereka.
“Mereka bilang kita harus pakai alat pengaman, dan tolong jaga Windi baik-baik, karena ia perempuan dan terlihat kurang sehat.” Aku mengangguk mengiyakan. Mendengar kata-kata itu aku jadi ragu untuk membawa Windi. Aku jadi takut, hal buruk akan menimpanya. Aku berencana untuk mengajak Windi menaiki helikopter dan melihat pemandangan Voringsfossen dan sekitarnya dari atas.
Aku menuntun Windi perlahan naik ke helikopter. Setelah memakai alat yang seperti penutup telinga, dan diberi tahu oleh dua pria tadi (tentu saja diartikan dahulu oleh Marco) tentang apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan barulah akhirnya helikopter ini tinggal landas.
“Raka, ini kita dimana sih? Kok berisik banget? Udah boleh dibuka belum? Penasaran nih!” kata Windi sambil setengah berteriak.
“Boleh, tapi ada syaratnya. Cium pipi dulu.” jawabku sambil mendekatkan pipi kananku ke bibirnya. “Mau gak?”
“Ih nyebelin!” omelnya.
“Kalo gak mau ya udah.” Aku langsung berbalik badan. Begitu aku menengok ke arahnya lagi tiba-tiba ia menciumku, dan kalian tahu? Terkena bibirku. Pasti ia tak sengaja karena matanya memang sedang dalam kondisi tertutup.
“Sorry, sorry. Aku gak sengaja,” katanya. Ia langsung menghadap ke arah lain dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Aku tersenyum geli melihat ekspresinya yang seperti itu.
“Windi nakal ya,” ejekku.
“Apaan sih!” katanya sambil meninju lenganku. Kami lalu tertawa bersama. Saat-saat seperti inilah yang paling kusukai.
“Eh, katanya mau bukain?” tanyanya.
“Iya, iya. Bentar.” Aku langsung membuka penutup matanya. Awalnya ia mengucek-ngucek matanya, lalu melihat ke bawah, dan tersenyum kaget seolah tak percaya bahwa ini adalah kenyataan.
“Raka! Indah banget..” komentarnya.
“Iya, kamu senang kan?” tanyaku sambil kurangkul dia.
“Senanglah. Makasih ya,” ucapnya sambil mencium pipi kiriku. Wow, selain hari ulang tahunku dan tadi ia tak pernah menciumku, baru kali ini ia melakukan atas inisiatifnya sendiri.
“Ngapain senyum-senyum?” tanyanya heran.
“Gak apa-apa, senang ajah. Aku janji tiap setahun sekali aku akan ajak kamu ke tempat-tempat yang bagus di seluruh dunia,” janjiku. Wajahnya berubah murung. “Kamu kenapa?”
“Gak apa-apa kok,” jawabnya. Ia kemudian bersender di pundakku sambil melihat pemandangan di bawah.

***

“Windi, bangun!” panggilku.
“Apaan sih, masih ngantuk tau!” sahutnya.
“Katanya mau lihat salju pertama yang turun, di luar udah mulai turun dikit-dikit tuh!” Sehabis aku berkata seperti itu, ia langsung bangun dan wajahnya berubah menjadi semangat. Aku memang sengaja tidak tidur seharian hanya untuk menunggu salju pertama yang turun.
“Mana? Ayo, keluar!” Ia tersenyum senang. Aku membantunya mengambil mantel, topi, sarung tangan dan perlengkapan lain miliknya.
“Wah indah banget!” ujarnya begitu tiba di taman hotel. Tangannya menutup mulutnya, dan butiran air di matanya mulai keluar. Mungkin terharu.
“Gimana? Ini winter pertama buat kamu spesial dari aku.”
“Makasih, makasih banget Raka!” ucapnya lalu memelukku erat.
“Aku senang kalau kamu juga senang.”
“Bikin boneka salju yuk! Emang sih saljunya masih dikit, tapi entar kita kumpulin salju-salju yang turun. Ya, ya, ya?” pintanya. Tentu saja aku mengangguk. Sangat sulit menolak semua permintaannya.
“Ya udah, kamu kumpulin saljunya, terus aku mau cari ranting buat tangan si tuan boneka salju. Oke? Gak apa-apa kan disini dulu sendiri? Aku bentar doang kok.”
“Iya, tenang ajah.”
“Sulit menemukan ranting di tempat ini. Mengambilnya dari pohon? Tentu tidak mungkin! Pohon di sekitar hotel ini sangat tinggi. Lalu aku melihat seorang petugas yang sedang menyapu jalanan. Di tempat yang sedang ia bersihkan aku melihat beberapa ranting yang masih bagus. Tapi sayangnya aku sama sekali tidak bisa bicara dengan bahasa asing. Demi Windi harus kucoba!
“Ehm, sorry..ehm….” Aku berbicara dengannya menggunakan bahasa isyarat. Wajahnya terlihat kebingungan. Aku mengambil ranting-ranting yang teretak di tanah, dan memberikannya dua lembar uang entah berapa nilainya dalam rupiah. Petugas itu hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan suatu kata yang mungkin artinya terima kasih. Ups! Aku baru ingat. Aku sudah terlalu lama meninggalkan Windi. Secepat kilat aku langsung berlari menuju taman hotel tempat tadi kami bermain.
Sesampainya, aku bingung bukan main. Di sekitar jalan terdapat banyak sekali darah berceceran. Pandanganku menyapu sekeliling mencari sosok Windi. Ah, itu dia. Ia sedang berjongkok membelakangiku, entah apa yang ia lakukan. Aku berjalan pelan-pelan dan berniat ingin mengagetkannya. Tapi, semua itu terhenti ketika aku melihat banyak sekali darah yang berceceran di depannya. Aku langsung berjongkok menghadapnya dan melihat ia sedang menutup mulutnya dengan darah yang terus keluar dari mulutnya.
“ASTAGA WINDI!! KAMU KENAPA?!?!” tanyaku tanpa dijawab olehnya. Ia langsung terbaring di pangkuanku, dadanya naik turun, mungkin sesak napas. Aku langsung menelepon Marco, dan menyuruhnya menyiapkan mobil agar bisa langsung membawa Windi ke rumah sakit. Ada apa ini? Windi memang pernah mengalami kejadian seperti ini, tapi darah yang dikeluarkan tak pernah sebanyak seperti saat ini. Hatiku bagai tersambar petir. Ketakutan yang luar biasa besarnya menyelimutiku. Tak mungkin! Tak mungkin ini saat terakhirnya! Tak mungkin!
Tak sampai lima menit Marco sudah siap. Ia langsung membantuku membawa Windi masuk ke dalam mobil dan secepat kilat menuju rumah sakit.
“Raka… Raka…” panggil Windi.
“Kenapa sayang?” sahutku sambil menangis. Aku benar-benar tidak tahan lagi melihat ini semua.
“Makasih a.. atas salju.. per.. tama… yang ka.. mu kasih… ke.. aku…” katanya terbata-bata.
“Windi, kamu harus kuat! Kita lagi dalam perjalanan ke rumah sakit. Kamu gak boleh pergi, Windi!” erangku.
“Ga.. gak.. bisa.. A.. aku.. harus pergi.. Wak.. tuku.. udah abis…”
“GAK, GAK BOLEH! KAMU GAK BOLEH PERGI! KAMU TEGA NINGGALIN AKU SENDIRI?! BUKANNYA AKU UDAH JANJI KALAU AKU AKAN AJAK KAMU KE TEMPAT-TEMPAT YANG INDAH DI SELURUH DUNIA? KITA JUGA PERNAH JANJI KALAU KITA AKAN BARENG TERUS SAMPAI TUA!”
“Raka, a.. aku gak a.. kan per.. nah pergi. Aku.. akan selalu.. ada.. di hati.. kamu. Berjanji.. lah.. sama aku.. kalau meskipun.. aku udah ga.. gak ada.. kamu harus.. tetap tersenyum.. Kamu.. gak boleh.. sedih. Janji?”
“Iya, Windi! Aku janji, tapi kamu jangan pergi. Please!”
“Makasih… Raka.. atas selama ini.. Aku.. sa..sayang.. ka..kamu.” dan matanya tertutup perlahan. Kucoba cek detak jantungnya, napasnya, denyut nadinya, tapi semua itu sia-sia. Semua itu telah berhenti.
“WINDIIIIIII!!!!!!” Aku menangis dan terus menangis. Marco masih terus melaju menuju rumah sakit.
“Windi, aku janji sama kamu kalau aku akan selalu tersenyum. Dan tiap minimal setahun sekali di bulan Oktober aku akan pergi ke tempat-tempat yang indah bareng kamu di hati aku. Tunggu aku disana,” kataku sambil menggenggam erat tangan Windi dan mengecup lembut keningnya. by citra andin ghinata

Festival Musik

14 Dec

Fisa tersenyum setelah menyanyikan lagu yang paling ia sukai. Tepuk tangan para penonton membuatnya semakin gembira. Di sampingnya ada seorang cowok yang telah membuat lagu itu seperti aslinya. Cowok itu adalah Zesga. Partner Fisa ketika bernyanyi. Mereka berdua selalu bisa memukau penonton dengan penampilannya yang sangat mengagumkan.
“ Fis, lagu tadi lumayan susah ya!” kata Zesga sambil meneguk air mineralnya.
“ Nggak juga, soalnya lagu itu udah Aku suka dari dulu.” Fisa duduk di samping Zesga.
“ Wah, kalau terus kayak gini, Aku jadi pengen duet terus sama kamu.” Canda Zesga.
“ Ye, Aku yang males. Liat mukamu aja hampir muntah.” Fisa tersenyum.
“ Eits, jangan salah. Meskipun gitu kan Aku cukup keren.” Zesga dan Fisa pun tertawa. Hari itu sudah malam. Fisa pun pamit pulang. Karena rumahnya cukup jauh.

*_*

Keesokan harinya di sekolah, Fisa dikerubungi oleh beberapa siswa yang ingin berfoto dengannya. Hingga bel berbunyi, mereka belum juga pergi. Akhirnya Pak Har-guru fisika yang cukup sangar- membuat semuanya bubar. Fisa segera berlari menuju kelasnya.
Untungnya Bu Siska sedang ada halangan. Jadi kelasnya hanya diberi tugas. Setelah selesai mengerjakan tugas itu Fisa mendengarkan cerita Rita -teman sebangku Fisa. Dia bercerita tentang pacarnya. Fisa tiba-tiba teringat pada Zesga. Cowok yang nggak terlalu cakep tapi narsisnya minta ampun. Teman duetnya ketika bernyanyi.

*_*

Ketika istirahat, Fisa dipanggil oleh Bu Fris-guru ekskul musik.
“ Fis, nanti ada latihan buat FM. Tolong kamu ajak Zesga. Ibu sulit sekali bertemu dengan dia.” Bu Fris memberikan undangan FM (Festival Musik) pada Fisa.
“ Baik, Bu. Nanti akan saya sampaikan pada Zesga. Kalau begitu saya pamit dulu.” Fisa segera keluar dari ruangan Bu Fris.
Sepulang sekolah, Fisa menemui Zesga di kelasnya. Ketika sampai dikelas itu Zesga sedang berpelukan dengan seorang perempuan. Fisa tak bisa melihatnya dengan jelas. Tiba-tiba hatinya terasa perih. Dia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Kemudian ia tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Zesga,
“ Zesga..” sapa Fisa
“ Oh, Kamu Fis. Ngapain Kamu di sini?” Tanya Zesga.
“ Sekarang ada latihan. Udah ditunggu sama Bu Fris. Lho, kok ada Sika?” Tanya Fisa.
“ Hehehe. Tadi Aku sama Sika lagi ngobrol sebentar.” Zesga tersenyum.
“ Ahh…ngobrol apa……” Fisa tidak melanjutkan perkataannya.
“ Udah deh. Sik, Aku latihan dulu ya.” Zesga mencium kening Sika dan segera beranjak pergi dengan Fisa.

*_*

Sesampainya di ruang kesenian, Fisa dan Zesga melihat Bu Fris yang sudah menunggu.
“ Bu Fris, maaf nunggunya lama.” Zesga mencium tangan gurunya itu.
“ Iya, nggak apa-apa.” Bu Fris tersenyum.
“ Jadi, Kita nyanyi lagu apa, Bu?” Tanya Fisa bersemangat.
“ Untuk FM, Ibu nggak akan memilihkan lagu untuk Kalian. Jadi Kalian harus memilihnya sendiri. Anggap aja ini ujian.” Ibu Fris menyerahkan selembar kertas yang berisi formulir pendaftaran FM pada Zesga.
“ Apakah lagunya terserah, Bu?’ Tanya Fisa.
“ Ya, baiklah kalau begitu. Ibu tunggu jawabannya besok.” Ibu Fris meninggalkan ruang kesenian.
“ Menurutmu lagu apa yang cocok?’ Tanya Fisa.
“ Entahlah. Kalau lagu Indonesia kayaknya kurang menarik. Bagaimana kalau lagu barat?” Zesga mulai mengisi formulir yang tadi diterimanya.
“ Betul juga. Bagaimana kalau ‘No Air’?”
“ Yang dinyanyiin sama Jordin Spark sama Crhis Brown itu kan?’
“ Iya. Lagunya bagus.”
“ Baiklah. Lagu itu saja.” Mereka berduapun mencoba menyanyikan lagu itu. Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 5 sore. Merekapun pulang.

*_*

Ketika di kelas, Fisa tiba-tiba memikirkan Zesga. Sejak kejadian melihat Zesga bersama Sika, Fisa merasa semakin sedih.
“ Kamu kok murung sich. Kenapa?” Tanya Rita.
“ Rasanya cemburu itu gimana sich?” Rita mengerutkan keningnya ketika mendengar Fisa berkata seperti itu.
“ Kamu lagi suka sama seseorang ya?” Tanya Rita.
“ He’em. “ Fisa menunduk.
“ Sama siapa?” Tanya Rita.
“ Kalau Kamu tahu, Kamu pasti kaget.” Fisa menekuk wajahnya.
“ Ha..? siapa sich?” Rita semakin penasaran.
“ Jangan, dech. Aku malu.”
“ Ayolah!”
“ Zesga.” Jawab Fisa lirih.
“ Apa? Zesga? Bukannya dia…” Rita menutup mulutnya.
“ Iya. Dia udah punya pacar. Aku juga nggak tahu gimana Aku bisa suka sama Dia. Tapi Aku mohon tolong jangan bilang siapa-siapa.”
“ Tenang aja. Bakalan Aku jaga baik-baik rahasiamu.’
“ Makasih ya, Rit.”
“ Iya sama-sama.”

*_*

Hampir setiap hari Fisa harus latihan bersama Zesga. Dan hampir setiap hari pula ia harus melihat Zesga bersama Sika. Dan pada hari itu, Zesga tak bisa mengikuti latihan karena ada urusan keluarga. Fisa menjadi tidak semangat latihan. Keesokan harinya, Fisa mendapatkan sebuah undangan. Ketika membukanya, ia kaget setengah mati. Itu adalah undangan pertunangan Zesga dan Sika. Rupanya keluarga mereka telah kenal cukup lama. Orang tuanya menjodohkan mereka. Fisa sangat terpukul. Karena acara pertunangan itu dilangsungkan dua hari setelah FM. Tapi apa boleh buat. Dia harus menampilkan yang terbaik untuk acara FM itu.

*_*

Hari yang ditunggu telah tiba. Fisa mengenakan mini dress berwarna putih yang lucu, sedangkan Zesga memakai jas berwarna hitam. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Sebelum tampil, Bu Fris memberikan arahan untuk mereka. Tibalah giliran mereka. Zesga dan Fisa naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi.

Tell me how I’m suppose to breathe with no air …

If I should die
Before i wake,
Its cause you took
My breath away.
Losing you is like living in a world with no air

I’m here, Alone,
Didn’t want to leave.
My heart won’t move,
It’s incomplete.
Wish there Was a way
That I can make you to understand,

But How,
Do you expect me,
To live alone with just me?
‘Cause my world revolves around you,
Its so hard for me to breathe.

Tell me how I’m supposed to breathe with no air.
Can’t live, can’t breathe with no air.
That’s how I feel when I know you ain’t there.
There’s No Air ,No Air.
Got me out here in the water so deep.
Tell me how you gon’ be without me.
If you ain’t here, I just can’t breathe.
Its No Air No Air.

Mereka menyanyikannya dengan begitu indah, Hingga pada tengah lagu air mata Fisa menetes. Dia teringat undangan itu. Zesga sempat mengernyitkan keningnya. Dan pada akhir lagu, Fisa tiba-tiba berkata “ I can’t live without you.”. kata itu tiba-tiba saja muncul dari mulutnya. Membuat Zesga semakin bingung. Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Fisa segera turun dari panggung dan menuju kamar mandi. Akan tetapi, Zesga menahannya. Dia menarik tangan Fisa. Sehingga mau tak mau Fisa berbalik.
“ Kamu kenapa?” Tanya Zesga.
“ Nggak apa-apa.” kata Fisa sambil menyeka air matanya.
“ Kamu ada masalah, ya?” Zesga mengajak Fisa duduk di kursi tunggu.
“ Aku nggak apa-apa, Cuma sedikit pusing.”
“ Pusing? Kenapa kamu nggak bilang sama Bu Fris? Setidaknya kamu akan diberi obat.” Zesga terlihat khawatir. Kemudian, tiba-tiba Sika datang.
“ Aku ke kamar mandi dulu, ya. Aku mau cuci muka dulu.” Fisa pun segera berdiri. Dia berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Zesga hanya bisa melihat Fisa dari jauh karena Sika mengajaknya ngobrol.

*_*

Di kamar mandi, Fisa menangis tersedu-sedu. Karena tersadar pengumuman pemenang akan segera diumumkan, ia segera mencuci mukanya dan memakai bedak. Dia setengah berlari menuju panggung. Dan di sana ia melihat Zesga dan Sika yang sedang asyik ngobrol. Dia ingin berbalik meninggalkan mereka berdua. Tapi suara Zesga membuatnya terus melangkah.
“ Kamu udah nggak apa-apa kan?” Tanya Zesga yang khawatir.
“ Nggak apa-apa kok.” Kata Fisa sambil duduk di sebelah Zesga.
“ Emangnya Kamu kenapa, Fis?” Tanya Sika.
“ Aku tadi sedikit pusing.” Jawab Fisa.
“ Owh, tapi sekarang udah nggak apa-apa, kan. Zesga, Aku ke temen-temen dulu, ya!” kata Sika yang segera berjalan ke teman-temannya.
“ Ehm, aku boleh tanya nggak?” kata Fisa yang sudah duduk di samping Zesga.
“ Apa?”
“ Sejak kapan Kamu jadian sama Sika?” Tanya Fisa sambil mengambil air mineral di dekatnya.
“ Heh?” Zesga hampir saja tersedak. “Eee….sekitar 1 bulan yang lalu.” Jawab Zesga malu-malu.
“ Owh..”
“ Emangnya kenapa?”
“ Cuma Tanya aja.”
“ Kalau Kamu? Kamu punya pacar nggak?” Tanya Zesga.
“ Nggak pernah. “ Fisa menghabiskan air mineralnya. “ Tapi aku suka sama seseorang.” Wajah Fisa terlihat memerah.
“ Siapa?” Tanya Zesga.
“ Seseorang yang selalu sama Aku dan orangnya baik banget.”
“ Siapa sich?” Tanya Zesga yang semakin penasaran.
“ Ada dech.” Fisa pun tersenyum. “ Eh, itu kan pengumumannya. Kita kesana yuk!” Fisa pun menarik tangan Zesga.

*_*

Si pembawa acara mulai membuka amplop yang diberikan oleh dewan juri.
“ Dan, pemenang festival musik tahun ini adalah……” Si pembawa acara menarik napasnya secara perlahan. Untuk memberikan kesan deg-deg-an pada penonton dan para peserta. “ Pasangan dari SMA Pelangi Jaya 3, Zesga dan Fisa.” Semua pun bersorak.
” Dimohon keduanya untuk naik ke panggung.” Tanpa sadar Fisa menggandeng tangan Zesga. Dan mereka pun mendapatkan piala juga beasiswa. Saking senangnya, tiba-tiba Fisa berbisik pada Zesga “ Anak itu kamu.” Zesga mengerutkan keningnya dan bingung. Setelah penyerahan piala dan sertifikat, keduanya turun dari panggung. Fisa yang merasa keceplosan ngomong, segera menjauh dari Zesga-dan berharap Zesga tidak mendengarkan perkataanya. Zesga hanya bisa bengong melihat Fisa yang tiba-tiba berlari ke pintu keluar.

*_*

Sika menyadarkan Zesga yang sedari tadi bengong. Dia mengingatkan kalau hari ini ada makan malam keluarga besarnya. Zesga pun segera menggandeng tangan Sika untuk menuju mobil, dan saat itulah dia melihat Fisa terduduk di bangku taman dengan menangis tersedu-sedu. Dia ingin menghampirinya, tapi urung dilakukan karena Rita menghampiri Fisa terlebih dahulu, Sika menegur Zesga yang lagi-lagi bengong nggak jelas.
“ Ya, ampun Zes. Kamu kok dari tadi bengong gitu sich? Ada masalah?” Sika menatap Zesga.
“ Gak kok. Aku sedikit kecapekan. Jadinya bengong melulu.” Zesga mengalihkan pandangannya ke Sika.
“ Hah? Apa hubungannya?” Sika menjadi bingung.
“ Sudahlah. Kita harus berangkat sekarang.” Zesga menarik tangan Sika sambil memperhatikan Fisa dan Rita.

*_*

“ Kamu kenapa Fis?” Rita menghampiri Fisa yang masih menangis.
“ Aku bodoh Rit. Aku bodoh.” Fisa semakin terisak.
“ Apa yang Kamu maksud?”
“ Aku…Aku sudah jujur padanya.” Fisa menunduk.
“ Apa? Kamu jujur pada Zesga tentang perasaanmu?” Rita kaget setelah mendengar hal tersebut.
“ Iya.”
Suasana hening. Hanya terdengar suara gemerisik angin dan suara binatang-binatang di malam itu. Bintang-bintang seakan tak mau menampakkan wajahnya. Fisa masih menunduk dan termenung. Sedangkan Rita mengambil handphone dari tasnya. Ia mulai memencet nomor telepon rumahnya.
“ Halo?…Pak Ujang? …Bisa jemput saya di sekolah sekarang? …Baiklah. Saya tunggu.” Rita mengembalikan handphonenya ke dalam tas.
“ Fis, kamu bareng aku aja ya. Ini udah malem banget. Gak mungkin ada angkot.” Rita kemudian mengambil tisu dan ia memberikannya pada Fisa.
“ Makasih Rit.” Fisa menyeka air matanya . Tak lama kemudian, Pak Ujang datang. Mereka berdua segera naik ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah Fisa, Rita tidak berkata apa-apa. dia hanya melambaikan tangan. Kemudian ia menutup jendela mobilnya. Mobilpun melaju menjauh dari rumah Fisa.

*_*

Fisa berjalan sambil menunduk. Sampai-sampai ia tak sadar jika mamanya sudah ada di hadapannya.
“ Fisa? Kamu kenapa? Kenapa matamu sembab?” Mama menghampiri Fisa.
“ Aku tidak apa-apa Ma. Aku hanya kecapekan.” Fisa terus melangkah masuk dan segera menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar, ia segera mengganti bajunya. Ia mencuci mukanya terlebih dahulu dan membersihkan sisa-sisa make-up. Kemudian ia jatuh tertidur. Pikirannya sudah terlalu rumit. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi Fisa. Tak hanya menguras tenaga dan suaranya, akan tetapi pikiran dan perasaannya juga.

*_*

“ Teman-teman jangan lupa ya. Besok malam dateng ke acaraku sama Zesga.” Sika membagikan bertumpuk-tumpuk undangan pada setiap orang yang lewat di depannya.
“ Sik, Kamu ngapain?” Zesga menghmpiri Sika sambil geleng-geleng kepala melihat pacarnya itu.
“ Bagi-bagi undangan lah. Biar acara kita bisa rame.” Sika sibuk menulis nama orang yang sudah menerima undangan darinya.
“ Ya ampun. Nggak usah sampek segitunya kali Sik….”
“ ZESGA..!!!.” Terdengar suara yang cukup mengagetkan Zesga dan Sika.
“ Rita? Apaan sih? Pakek teriak-teriak segala.” Zesga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Ehm, ? Elo mau ikut njenguk Fisa gak? Dia sakit.” Wajah Zesga tiba-tiba mengeras dan terlihat kaget.
“ Apa? Fisa sakit? Sakit apa?” Zesga terlihat sangat khawatir.
“ Gak tau.”
“ Kapan kita kesana? Sekarang?” Zesga mulai mengingat-ingat agendanya hari ini.
“ Iya. Kalo Elo nggak keberatan.” Jawab Rita.
“ Tentu aja nggak. Lagipula hari ini Gue nggak ada kegiatan.”
“ Zesga? Hari ini Kita akan pergi belanja untuk keperluan acara kita.” Sika menarik tangan Zesga.
“ Kita kan njenguknya nggak lama Sik. Nggak sampek berjam-jam.” Kata Zesga..
“ Tapi, kalo Kita nggak berangkat sekarang, kita akan terlambat untuk makan malam nanti.” Sika menampakkan wajah memohon pada Zesga.
“ Idih, cuma setengah jam aja lo. Masak nggak sempet se?” Rita menambahkan.
Sika terlihat berpikir sebentar. “ Baiklah. Tapi jangan lama-lama.” Zesga terdiam. Ia tak mengangguk maupun menggeleng. Kemudian ia berjalan menuju mobil sambil menggandeng tangan Sika. Rita menaiki mobilnya dan berangkat duluan. Sepanjang perjalanan ke rumah Fisa, Zesga tak berkata sepatah katapun. Dia terlalu larut dalam pikirannya. Sedangkan Sika hanya melihat keadaan sekitar. Ia masih kecewa dengan Zesga. Karena ia tahu ada yang berubah dari seorang Zesga. Cowok yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

*_*

Rumah berwarna biru muda itu terlihat sepi. Hanya ada suara kucing mengeong dari dalam rumah. Rita yang sudah sampai duluan, lalu memencet bel yang ada di dekat pagar rumah. Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka bertiga.
“ Temennya Non Fisa ya?”
“ Iya. Katanya Fisa lagi sakit ya?” Tanya Rita.
“ Iya Non. Kasihan Non Fisa. Masuk dulu Non.”
“ Makasih Bi.” Rita, Zesga dan Sika segera masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu mereka bertemu dengan Tante Dian, Ibu Fisa.
“ Siang Tante.” Sapa Rita.
“ Siang. Kamu Rita ya?” Tante Dian menutup majalah yang tadi ia baca.
“ Iya Tante. Saya kesini mau menjenguk Fisa.”
“ Oo, Iya ya. Masuk saja. Fisa ada di kamarnya..”
“ Terima kasih Tante.” Rita, Zesga dan Sika segera menuju kamar Fisa yang berada di lantai dua. Rita mengetuk pintu kamar dan terdengar suara Fisa yang masih lemah.
“ Siapa?” Tanya Fisa lirih dari dalam kamar.
“ Rita, Fis. Aku dateng sama Zesga dan Sika.”
“ Sebentar.” Fisa membuka pintu kamarnya. Parasnya yang biasanya cantik terlihat lesu. Matanya sayu, seperti kurang tidur. “ Masuklah.”
“ Kamu kenapa Fis? Kok bisa sampai sakit?” Tanya Zesga yang sudah duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.
“ Kayaknya kecapekan.” Jawab Fisa singkat.
“ Aduh. Kegiatan Kamu banyak banget, sih. Gak ada berhentinya.” Raut wajah Zesga terlihat khawatir.
“ Biasa aja deh.” Pintu kamar Fisa terbuka. Bi Inah masuk ke dalam kamar sambil membawa tiga gelas jus jeruk, satu gelas air putih dan cemilan.
“ Silahkan Non, Den” kata Bi Inah.
“ Makasih Bi.” Rita segera meneguk jus jeruk itu. “ Sorry. Gue haus banget.”
“ Gak sopan amat sih.” Gumam Sika.
“ Heh? Elo ngomong apa?” Rita meletakkan gelasnya.
“ Enggak. Elo salah denger kali. Anggep aja gue nggak ngomong. ” Sika memalingkan mukanya.
Rita pun terdiam. Semua yang ada di ruang itu terdiam.
“ Wah, udah jam tiga. Kita harus pulang Zes. Banyak yang harus Kita persiapkan untuk besok.” Sika beranjak dari duduknya.
Zesga melirik jam tangannya. Kemudian ia berdiri dan memandang sekeliling kamar itu. Ia tak ingin meninggalkan tempat itu. Tapi ia memang harus pergi. Meskipun sebenarnya hatinya tak ingin.
“ Ya udah Fis. Aku harus pergi.” Zesga menyalami Fisa.
“ Makasih udah datang.” Fisa menyunggingkan senyum tipis.
“ Eits, Gue ikut pulang juga deh. Gue ada bimbel hari ini.” Rita juga beranjak dari duduknya. Setelah bersalaman, mereka bertiga pun keluar dari kamar Fisa.
Sika berjalan di depan Zesga dan Rita. Tiba-tiba Rita menghentikan langkah Zesga.
“ Zes, elo harus nemuin gue nanti malem. Bisa gak?” Tanya Rita.
“ Nanti malem? Dimana? Jam berapa?” Zesga terlihat bingung.
“ Iya. Di Cafe Rockstar, jam tujuh.”
“ Oke.”
“ Sik, gue pulang dulu. Bye.” Rita menaiki mobilnya dan meluncur pergi. “ Zes, inget kata-kata Gue.”
“ Kita harus berangkat sekarang. Kalau gak tempatnya bakalan tutup.” Sika dan Zesga pun pergi dari rumah Fisa. Fisa mengamati mereka dari jendela kamarnya. Bulir-bulir air mata keluar dari sudut matanya.

*_*

Jam tujuh malam, Cafe Rockstar sudah mulai padat pengunjung. Zesga mengambil tempat di pojok ruangan. Sesekali ia melirik jam tangannya. Seorang pelayan menghampirinya.
“ Pesan apa Tuan?” tanya pelayan itu.
“ Ehm, coklat panas aja.” Kata Zesga.
“ Silahkan ditunggu.” Pelayan itu segera pergi dari hadapan Zesga.
Tiba-tiba suara telepon mengagetkannya. Ternyata ada sms dari Sika.

Cyank, kmu dmana?

Di Rockstar, knapa?

Cma tnya aj. Jgn lpa bsok ya. Bsok hari trpnting buat kta.

Iya Cyank. Ak gak bakalan lupa. Tnang aj.

Ya udah. Bye.

Bye.

Zesga menghela napas. Sudah lima belas menit ia menunggu. Tapi Rita belum datang juga. Tiba-tiba suara Rita yang khas mengagetkannya.
“ Hey, Sorry gue telat.” Rita duduk di kursi yang ada di depan Zesga.
“ Darimana aja Elo? Gue nunggu sampai lumutan.” Zesga memperlihatkan muka kesalnya.
“ Biasa. Gue lagi banyak orderan.”
“ Makanan kali di order.”
“ Biasa. Nyokap Gue minta dianterin ke mall.” Rita tersenyum lebar.
“ Elo mau ngomong apa sih?”
“ Aduh, Gue bingung mau ngomong dari mana.” Rita memainkan handphone yang ada di tangannya.

“ Udahlah. Cepet ngomong. Waktu Gue gak banyak.” Zesga menatap Rita. Kemudian Rita berhenti memainkan handphonenya.
“ Besok itu hari pertunangan Elo sama Sika?” tanya Rita.
“ Iya. Memangnya kenapa?” Zesga bingung dengan pertanyaan Rita.
“ Elo benar-benar suka sama Sika?” tanya Rita lagi.
“ Apa maksud Elo? Tentulah Gue suka sama Dia. Kalo gak, ngapain juga Gue mau tunangan sama Dia” Zesga semakin bingung.
“ Tapi dari yang Gue lihat, Elo gak benar-benar mencintai Sika.” kata Rita tegas.
“ Kenapa Elo berpikiran kayak gitu? Ini semua gak ada hubungannya sama Elo.” Zesga mulai naik darah.
“ Memang gak ada hubungannya sama Gue. Tapi berhubungan sama sahabat Gue.” Rita menatap Zesga tajam.
“ Sahabat? Siapa?” tanya Zesga.
“ Tentu Elo masih inget perkataan Fisa ketika festival musik.” Jawab Rita datar.
“ Perkataan Fisa?” Zesga mulai merasa darah yang ada di wajahnya surut.
“ Iya.” Zesga terdiam dan mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba wajah Zesga memucat.
“ Jangan-jangan yang elo maksud itu, perkataan Fisa di akhir lagu.” tanya Zesga takut-takut.
“ Iya. Elo bener.”
“ Jadi yang dikatakan Fisa itu benar.” Tanya Zesga lagi.
“ Tentu aja. Dia sendiri yang cerita ke Gue.”
“ Jadi yang dimaksud Fisa itu, Gue? Dan berarti yang dicintai Fisa itu Gue juga?” Zesga menyenderkan kepalanya di kursi.
“ Elo benar ,Zes. Dan asal Elo tahu, Dia sangat terpukul mendengar berita pertunangan Elo sama Sika. Gue tahu, Gue gak berhak mencegah pertunangan Elo sama Sika. Tapi Gue merasa perlu ngasih tahu Elo tentang hal ini.” Kata Rita panjang lebar. Zesga masih terdiam.
“ Mungkin Elo sedikit bener. Gue gak begitu mencintai Sika. Gue selalu memikirkan orang lain ketika bersama Sika. Tapi Gue gak tahu siapa.” Zesga tertunduk.
“Apa? Jadi dugaan Gue bener?” Rita menghela napas. Zesga hanya bisa mengangguk. “Tapi maaf Zes. Gue gak bisa bantu Elo. Semua keputusan ada di tangan Elo. Dan mungkin Gue harus pergi sekarang. Gue ada urusan.” Rita berdiri dari tempat duduknya.
“ Thank’s, Rit.” Rita berjalan keluar dari Rockstar Cafe. Sedangkan Zesga tetap terdiam di tempat duduknya.
Tak lama kemudian, Zesga meninggalkan Rockstar Cafe dengan wajah letih. Dia benar-benar bingung.

*_*

Sika sekali lagi mencoba gaun yang akan dikenakannya besok. Di hari spesial baginya, hari pertunangannya dengan Zesga. Akan tetapi, sekarang Sika merasa jika Zesga sudah berubah. Ia merasa, banyak hal aneh yang terdapat pada Zesga.
Gue bener-bener bingung. Sebenarnya apa yang terjadi sama Dia. Dia kayak selalu jauh meskipun Dia ada sama Gue. Gue gak ngerti maunya Dia itu apa. Dia selalu jadi orang lain. Bukanlah Zesga yang Gue kenal. Sika menghela napas. Kemudian, Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tak lama kemudian Ia tertidur.

*_*

Pagi harinya, Fisa terbangun dengan mata sembab. Ia menangis semalaman. Ia ingat jika hari ini hari pertunangan Zesga dan Sika. Kemudian, Ia mengambil handphonenya yang ada di atas meja. Terdapat tiga sms yang belum ia baca. Yang pertama dari Rita :

Fis, hr ne elo WAJIB dteng. Awas aja smpek g dteng.

Haduh, Gue males. Lgpla Gue msih skit.

G ad alasn. Elo hrus dteng. Okok.
Nnti mlem gue jmput.

Iya.ya. Gue dteng.

Yang kedua dari papanya :

Sayang, kmu gak papa kan? Papa khawatir bnget wktu dnger kmu skit. Maaf Papa blum bsa plang. Msih bnyak kerjaan.

Fisa tidak membalas sms papanya. Ia tahu, mungkin sekarang papanya sedang ada rapat atau semacamnya. Ia tak ingin mengganggu kegiatan papanya. Yang ketiga dari orang yang tidak pernah terduga oleh Fisa. Sms itu dari Zesga :

Fis, gmana keadaan kmu? Smoga kmu baik2 aj. Ak pngen kmu dteng k acraku. Dtang y. Please!!!

Iya. Ak dteng.

Fisa meletakkan handphonenya di atas meja. Kemudian ia mengambil handuk yang tergantung dekat pintu dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Fisa segera sarapan di ruang makan. Wajahnya benar-benar murung. Ia bahkan hanya menatap makanan yang ada di depannya tanpa menyentuhnya. Akhirnya, Fisa memutuskan membaca novel kesayangannya. Ia segera berjalan menuju kamarnya. Kemudian, ia menutup dan mengunci pintu kamarnya. Ia mengambil novel kesayangannya dan mulai larut dalam cerita novel itu..

*_*

Lagi-lagi Zesga bangun kesiangan. Ia dibangunkan oleh Sika yang sudah ada di dalam kamarnya.
“ Ya ampun, Zes. Kamu itu, hari ini itu acara penting buat kita. Kamu kok malah kesiangan.” Sika menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Zesga
“ Mau gimana lagi. Aku benar-benar lelah.” Zesga duduk di tempat tidurnya.
“ Kamu mandi dulu gih. Aku buatkan sarapan.” Kata Sika, Zesga beranjak dari tempat tidurnya dan tidak berkata apa-apa-bahkan tidak menatap Sika sekalipun. Sika Cuma bisa terbengong-bengong melihat sikap Zesga. Kemudian setitik air mata menetes dari sudut matanya, cepat-cepat ia usap air matanya itu. Ia segera menuju dapur dan mengambil bahan-bahan untuk di masak pagi itu.

*_*

Sial. Zesga mengumpat dalam hati. Apa yang mesti aku lakuin. Aku bingung. Aku tahu aku tak mencintai Sika. Aku tahu. Tapi aku harus gimana. Apa aku batalkan aja pertunangan ini? Zesga menghela napas. Ah, tidak mungkin. Itu telalu gila. Papa dan mama pasti akan sangat marah. Apalagi keluarga Sika itu pemegang saham terbesar perusahaan papa. Bisa-bisa perusahaan papa bangkrut gara-gara pertunangan ini gagal. Zesga lagi-lagi meninju tembok yang ada di depannya. Ia merasakan sedikit rasa nyeri di buku-buku tangannya. Lama ia terdiam. Kemudian, ia memandang sebuah foto yang sedari tadi ia pegang. Fotonya bersama dua cewek di sampingnya. Di samping kirinya ada Sika yang merangkul tangannya dengan senyum lebar. Sedangkan di samping kanannya, ada seorang cewek terdiam dan menunduk. Bahkan dia tak menatap wajahnya samasekali.
Aku tahu. Siapa yang seharusnya kupilih. Siapa yang sebenarnya aku sayang. Aku tahu. Aku harus membuktikannya malam ini. Zesga meletakkan foto tadi di laci tempat tidurnya. Kemudian ia mengambil handphonenya dan beranjak menuju ke dapur untuk menemui Sika.

*_*

“ Pagi, Sik.” Tanpa pikir panjang, Zesga mendekati Sika dan memeluknya dari belakang. Sika tersentak,
“ Pagi. Tumben kamu kayak gini.” Kata Sika yang melepaskan rangkulan Zesga.
“ Gak papa. Pengen aja.” Zesga duduk di salah satu kursi yang menghadap ke Sika. “ Masak apa nih?”
“ Nasi goreng kesukaan kamu.”
“ Wow, aku mau. Udah jadi belum?” tanya Zesga.
“ Tinggal dikit lagi. Nah, jadi.” Zesga mengambil dua piring dan menyodorkannya ke Sika. Sika mulai mengisi dua piring itu dengan setumpuk nasi goreng. “ Makan dimana?”
“ Di depan kolam aja.” Zesga membawa piringnya serta segelas susu yang sudah siap daritadi. Sika mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di depan kolam, Zesga duduk di kursi yang menghadap kolam. Sedangkan Sika berada di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa, Zesga langsung melahap nasinya itu. Sika daritadi hanya terdiam.
“ Kamu kok gak makan? Kalo gak mau, buat aku aja.” Kata Zesga sambil menatap Sika.
“ Oh, iya.” Sika tersadar dari lamunannya. “ Aku udah kenyang.”
“ Kenyang gimana? Kamu belum makan kan?”
“ Makan aja gak papa. Aku pergi sekarang. Aku harus ngecek kue kita.” Sika berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Zesga tahu, ada yang berubah dari Sika-dan itu karena dirinya. Zesga menghabiskan makanannya. Kemudian ia menuju dapur, dan meletakkan piringnya di bak cuci.

*_*

Mobil Avanza putih, berjalan menjauh dari rumah Zesga. Sika yang ada di dalamnya terlihat murung. Sesekali air matanya menetes. Ia membiarkannya. Kemudian ia mengambil headsetnya dan mendengarkan lagu.
Tak kusangka. Perkiraanku benar. Aku tahu ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada hubunganku dengan Zesga. Yang pertama, aku bisa bersama Zesga. Yang kedua, Aku dan Zesga harus berpisah. Apakah aku siap menerima kemungkinan yang kedua? Rasanya sakit bila aku harus merelakannya. Aku tak mau. Sika menyeka air matanya. Ah, aku tahu aku harus siap. Aku bisa. Aku bisa melepasnya. Kalau itu memang yang dia inginkan. Asalkan dia bahagia, aku rela. Mobil itu berhenti di depan sebuah toko kue. Sika turun dan masuk ke dalam toko kue itu.
“ Selamat datang Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan menyambutnya.
“ Ehm, saya mau mengambil kue dan membuat satu buah kue lagi.”
“ Lewat sini, Nona.” Sika mengikuti pelayan itu. “ Nah, ini berbagai pilihan untuk kuenya. Anda mau pesan yang mana?”
“ Yang blackforest aja. Di atasnya kasih tulisan ya.”
“ Sebentar, Nona. Saya ambilkan kertas.” Pelayan itu pergi untuk mengambil kertas. Tak lama kemudian ia kembali. “ Silahkan, Nona.” Sika menuliskan apa yang ada di pikirannya. Kemdian ia menyerahkan kertas itu kepada si pelayan.
“ Jadinya kapan?” tanya Sika.
“ Mungkin nanti sore.”
“ Tak bisakah sekarang?”
“ Maaf, Nona. Kami samasekali tidak mempunyai persiapan. . .” Suara telepon mengagetkan si pelayan itu. Kemudian ia mengangkat teleponnya dan berbicara sebentar. Setelah itu menutupnya “ Kali ini Anda beruntung. Salah satu pelanggan kami membatalkan pesanannya. Dan kebetulan Ia juga memesan kue yang sama dengan yang Nona pesan.” Si pelayan itu menuju ke dapur. Tak lama kemudian sebuah kotak kue sudah ada di tangannya. Sika memberikan lembaran uang ke pelayan itu, dan membawa dua buah kotak kue itu ke mobilnya.

*_*

Fisa sedang bercermin malam itu. Sesekali ia merapikan ikatan rambutnya sambil menunggu Rita menjemputnya. Sudah jam tujuh seperempat, Rita tak kunjung datang. Tiba-tiba, setitik air mata keluar dari sudut mata Fisa. Dengan cepat Fisa mengambil tisu dan mengusap air matanya itu.
Terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Fisa. Fisa segera mengambil tas tangannya dan turun ke bawah. Di ruang tamu, mamanya sedang berbincang-bincang dengan Rita.
“ Eits, cantik amat Elo!” pekik Rita.
“ Thank’s.” Fisa hanya tersenyum menanggapi pujian Rita. “ Ma, Fisa berangkat dulu. Kayaknya pulangnya agak maleman.” Fisa mendekati mamanya dan mencium tangannya.
“ Hati-hati ya sayang. Kalau acaranya udah selesai, cepet pulang.”
“ Ya udah Tante, Saya berangkat dulu.” Rita menyalami Tante Dian dan segera beranjak dari tempatnya.
Di perjalanan, Fisa hanya terdiam. Ia tak menegeluarkan sepatah katapun.
“ Ampun, Fis. Masak Kamu murung terus sih?” Rita mulai bosan dengan keheningan yang terjadi.
“ Aku gak mood , Rit. Tadi aja, aku udah mau tidur kalo kamu gak sms aku.” Fisa mengerucutkan bibir tipisnya.
“ Aku bingung deh sama Kamu. Kamu jadi kayak gak ada semangat hidup gitu. Gak pernah ceria lagi.” Fisa lagi-lagi terdiam. Rita menghentikan mobilnya di halaman Hotel Griya Santa.
“ Aku mohon, di acara ini kamu harus ceria.” Rita keluar dari mobilnya.
“ Gak janji.” Jawab Fisa singkat dan pelan.

*_*

Rita dan Fisa Cuma bisa terbengong-bengong melihat kemewahan acara pertunangan itu. Semua ruangan di tata ala Eropa. Untungnya, kali ini mereka memakai gaun yang pas dengan tema acara ini. Di bagian tengah, terdapat dua buah meja bulat besar yang sudah dipadati oleh beberapa orang yang sepertinya cukup terpandang-tepatnya mereka adalah keluarga besar Sika dan Zesga. Di antara orang-orang itu, Sika dan Zesga duduk sambil mengobrol. Tapi, sekali-kali Zesga meminum minuman yang ada di hadapannya. Kepalanya celingukan seperti mencari seseorang.
Rita dan Fisa memilih duduk di salah satu meja yang kosong dekat pintu keluar.
“ Sumpah. Acara ini mewah banget. Bener-bener anak konglomerat.” Kata Rita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Mereka memang pasangan yang pas. Sama-sama kaya dan berbakat.” Fisa memandang sekelilingnya. Ketika ia menemukan sosok yang paling tak ingin ia lihat, ia segera mengalihkan pandangannya.
“ Aku gak setuju deh. Kita liat aja, apa hubungan mereka bertahan lama atau tidak.” Rita tersenyum sinis.
“ Maksud kamu apa, Rit?” Fisa terlihat bingung.
“ Ohh, anggep aja aku gak ngomong.” Rita malah cengingisan. Ia tak ingin sahabatnya itu mengerti perkataannya.
Tiba-tiba semua lampu di ruangan itu mati. Suara ramai di ruangan itu, langsung senyap seketika. Sekarang, pandangan semua tamu tertuju ke sebuah panggung kecil yang berada tepat di seberang pintu keluar. Seorang gadis cilik, tiba-tiba muncul dari belakang panggung.
“ Malam semua. Perkenalkan, Saya Gretalia. Saya mewakili keluarga Perdana akan membimbing anda sekalian mengikuti acara ini. Acara kali ini adalah acara yang paling spesial. Yaitu, acara pertunangan antara kakak saya, Zesga dengan Kak Sika. Nah, sebelum itu saya persilahkan kepada Tuan Perdana untuk memberi sambutan. Waktu dan tempat saya persilahkan.” Gadis cilik itu turun dari panggung. Salah seorang pria yang duduk di meja tengah tadi berdiri. Badannya tegap dan ia berambut lurus. Mirip dengan Zesga. Mungkin itu Ayahnya Zesga. Pikir Fisa.
Pria itu sudah berada di atas panggung. Ia mulai berbasa-basi tentang arti dari pertunangan ini dan berbagai perkataan yang selayaknya dikatakan pada sambutan. Fisa tidak mendengarkan pria itu bicara. Dia hanya memandang gelas kosong yang ada di hadapannya.
Tak lama gadis cilik itu naik lagi ke atas panggung. Dan gadis itu mulai bercuap-cuap lagi.
“ Demikian sambutan dari keluarga Perdana. Sebelum penyerahan cincin, ada satu permintaan khusus dari Kak Sika. Kak Sika minta, untuk Kak Zesga dan Kak Fisa menyanyikan satu buah lagu untuk acara ini. Buat Kak Fisa dan Kak Zesga harap segera naik ke atas panggung.” Gadis cilik itu tersenyum.
Fisa yang masih duduk di kursinya cuma bisa terdiam. Dia tak berani berkata apa-apa. Tiba-tiba sebuah lampu menyoroti dirinya. Mau tak mau akhirnya Fisa berdiri dan berjalan menuju panggung.
Di belakang panggung, Zesga menunggu Fisa dengan raut bingung. Akhirnya, Fisa mendekati dirinya.
“ Apa maksudmu? Kenapa aku harus menyanyi disini?” Fisa mulai memuntahkan semua pertanyaan yang ada di kepalanya.
“ Aku gak tau Fis. Ini semua permintaan Sika. Aku sama sekali tak tahu.” Zesga melipat tangannya di depan dada.
“ Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Fisa lebih bingung lagi. Memang benar mereka pasangan duet, tapi mereka tidak pernah menyanyi tanpa persiapan.
“ Kita harus menyanyikan satu lagu. Agar mereka tidak kecewa.” Kata Zesga datar.
“ Kita tak punya persiapan. Kita juga tidak latihan. Kita mau nyanyi lagu apa?” Fisa seakan sudah putus asa. Dia benar-benar tidak ingin menyanyi bersama Zesga sekarang.
“ Never Gonna Leave Your Side” gumam Zesga.
Fisa mengalihkan pandangannya ke Zesga. “ Baiklah. Lagu itu saja. Tak ada lagi lagu yang bisa kita nyanyikan.” Akhirnya mereka mengambil mikrofon dan naik ke atas panggung.
“ Malam semua! Sepertinya Sika mencoba membuat kaget semua orang. Termasuk aku dan Zesga. Kita berdua sama sekali tidak punya persiapan buat nyanyi di acara ini. Tapi, karena ini permintaan khusus dari Sika di hari yang paling spesial buat dia, kita turuti permintaannya. Nikmatilah lagu persembahan dari kami.” Fisa mundur ke belakang. Zesga menatap Fisa dalam-dalam dan mulai bernyanyi.

I feel like a song without the words,
a man without a soul,
a bird without its wings,
a heart without a home.
I feel like a knight without a sword,
a sky without the sun, cause you are the one.
I feel like a ship beneath the waves,
a child who’s lost its way,
a door without a key,
a face without a name.
I feel like a breath without the air,
and everyday’s the same,
since you’ve gone away.

I gotta have a reason to wake up in the morning.
You used to be the one that put a smile on my face.
There are no words that could describe how I miss you;
I miss you, everyday. Yeah

And I’m never gonna leave your side.
And I’m never gonna leave your side, again.
still holding on, girl, I won’t let you go,
Cause when I’m lying in your arms I know I’m home.

Semua orang bertepuk tangan setelah Fisa dan Zesga menyanyikan lagu itu. Sika yang berada di meja tengah menitikkan air mata dan segera mengusapnya. Dia tersenyum pada Fisa dan Zesga. Kemudian, ia naik ke atas panggung. Ia berdiri disamping Zesga.
“ Inilah saatnya.” Sika menarik napas panjang. Kemudian, Zesga mengambil kotak cincin dari saku celananya. Tangan Sika terjulur kedepan. Tepat ketika Zesga akan memakaikan cincin itu ke jari Sika, Sika menarik tangannya dan mundur.

*_*

Semua yang ada di ruangan itu terheran-heran dengan sikap Sika.
“ Aku tahu, Zes. Cincin itu seharusnya tidak terlingkar di jariku. Aku tahu.” Sika mengembalikan cincin itu ke kotaknya.
“ Maksud kamu apa, Sik?” Zesga tak mengerti.
“ Hatimu bukan untukku lagi. Aku tahu kamu tak mencintaiku lagi. Dan aku tahu siapa yang lebih pantas menerima cincin itu.” Sika tersenyum. Kemudian ia berjalan ke belakang panggung. Zesga hanya bisa ternganga setelah mendengar perkataan Sika.
Tak lama kemudian, Sika kembali dengan membawa sekotak kue-kue yang dibelinya tadi siang.
“ Zes, gadis itu ada disini. Ini seharusnya acara pertunanganmu dengan Fisa. Bukan pertunanganku.” Sika meletakkan kue itu diatas meja. Lalu, ia menggandeng tangan Fisa dan Zesga. “ Hadirin yang terhormat. Sebenarnya saya sudah mengetahui hal ini jauh sebelum acara pertunangan ini. Saya tahu, saya tidak akan bisa bahagia bila orang yang menjadi tunangan saya tidak mencintai saya. Jadi, lebih baik saya melepasnya. Dan saya akan sangat setuju bila Zesga bersama Fisa.” Sika memandang Zesga. ” Tunggu apalagi Zes. Cincin itu untuk Fisa.” Sika melepas tangannya dan mengambil kotak cincin itu lagi.
Zesga menggeleng. “ Aku gak bisa Sik. Meskipun begitu, acara pertunangan ini tak boleh gagal.” Zesga tak mau mengambil kotak cincin itu.
“ Bisa, Zes. Aku tahu yang sebenarnya. Hatiku gak bisa kamu bohongi. Aku tahu kamu, Zes. Ayolah. Ini pertunanganmu dengan Fisa. Aku ikhlas. Aku akan bahagia jika kamu bahagia. Aku mau kamu melakukan ini.” Sika memberikan kotak cincin itu pada Zesga.
Akhirnya, Zesga mengambil kotak cincin itu dan membukanya. Fisa yang sedari tadi terdiam, menatap Zesga dalam-dalam.
“ Aku sadar, Fis. Aku memang mencintaimu. Aku baru menyadari hal itu. Maafkan aku bila aku pernah menyakitimu. Bagaimanapun, kamu adalah orang yang spesial buatku.” Tanpa berkata apa-apa, Zesga memakaikan cincin itu di jari manis Fisa.
“ Aku nggak tahu harus ngomong apa. Tapi aku juga mencintaimu.” Setitik air mata keluar dari mata Fisa. Fisa tersenyum. Kemudian, pandangannya berpindah ke Sika.
“ Aku nggak tahu apa yang harus aku katakan. Aku Cuma bisa bilang makasih ke kamu, Sik.” Fisa memeluk Sika. Dan air matanya mulai mengalir.
“ Dia lebih pantas untukmu, Fis. Aku harap, kamu bisa terus ada di samping Zesga,” Sika melepas pelukan Fisa. Ia mengambil kotak kue tadi dan membukanya. “ Aku sudah mempersiapkan semua. Ini kue kalian.”
Fisa menerima kue itu. Ia tersenyum. Kemudian ia memotong kue itu dan memberikan potongan pertama pada Sika.
“ Ini sebagai tanda terima kasihku. Terima kasih buat pengorbananmu. Aku nggak menyangka hari ini bisa menjadi hari yang indah.”
“ Aku turut bahagia.” Sika menerima kue itu dengan senang hati.
Semua undangan berdiri dan bertepuk tangan. Zesga menggandeng tangan Fisa. Mereka berdua sangat bahagia. Hari itu bukan lagi hari pertungan Zesga dan Sika, akan tetapi sudah berganti menjadi hari jadian Zesga dan Fisa. Meskipun pertunangan Zesga dan Sika gagal, keluarga besar mereka tetap bersatu. Mereka tidak keberatan dengan keputusan Sika. Mereka yakin itulah yang terbaik bagi mereka semua.
Akhirnya, Zesga dan Fisa dapat bersatu. Mereka menjadi pasangan yang bahagia. Mereka selalu bersama-sama. Bukan hanya sebagai teman duet, tapi lebih dari itu. by puji rahayu

Sendiri

14 Dec

Title : Sendiri
Genre : ? (ada yang tau?
Type : Flash Fiction (266 words)
Author : Vanka Pramudita

Sepasang kekasih tengah bercanda dengan mesra. Sepasang muda mudi berseragam putih abu-abu, tengah melintas di depannya seraya bergenggaman tangan. Kemudian seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi mungilnya, berjalan di belakang mereka dengan suaminya. Sedangkan aku, aku duduk termenung sendiri di sebuah kursi taman tak jauh dari mereka. Tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa keluarga, tanpa kekasih. Hanya aku sendiri.
Aku tak kuasa menahan beban ini. Aku tak bisa menghadapi ini sendiri. Satu-satu dari mereka pergi, meninggalkanku sendiri. Ini salahmu! Kata para teman dan sahabat. Lain lagi kata keluargaku, Kau telah merusak martabat keluarga kami! keluar kau dari rumah ini! dan ini yang paling menyakitkan, kurang dari sepuluh menit yang lalu, saat aku berbicara dengan kekasihku, malah ini yang kudengar Kau tau? aku masih kuliah, jadi aku tak mungkin bertanggung jawab. Setelah berkata seperti itu, ia langsung meninggalkan aku dan perutku yang semakin membesar ini.
Ditangan kananku telah tergenggam sebilah pisau lipat, yang siap menyayat urat nadi tangan kiriku, kapan pun aku mau. Aku terlihat memandang ke seberang jalan, namun sebenarnya hanya ada sebuah pandangan kosong. Dalam pikiranku, hanya ada sebuah tempat yang sangat indah. Apakah itu Surga? Tebakku. Apakah aku akan berada disana, jika nanti aku mati? Aku bertanya. Tidak!!! Teriak sebuah suara.
Aku menatap tangan kiriku dan sebilah pisau lipat yang berada sangat dekat dengannya. Apakah aku akan melakukannya? Tanyaku. Tidak!!!! Teriak suara itu lagi. Aku harus melakukannya. Tidak!!!! Tidak!!! Tidak!!!! Suara itu terus menggema dikepalaku, bersamaan dengan itu sebuah cairan hangat mengalir dari pergelangan tangan dan seketika mataku terpejam. Apa yang terjadi dengan wanita hamil itu? Kalimat itulah yang akhirnya menjadi pengantarku menuju kematian. by vanka pramudita

Cipta Karya CK3 2011

13 Dec

1. Lomba cerpen
… kalo yang ini ya lomba cerpen biasa.
persyaratan : – belum pernah dipublikasikan di media lain.
– harus murni buatan sendiri
– minimal 3 halaman letter
– font 12

2. Lomba cerpen dengan gambar
buat yang bisa gambar sama nulis, bisa ikutan ini. jadi selain cerpen, kalian juga
harus sertain gambar yang sesuai sama tema cerpennya.
persyaratan : – belum pernah dipublikasikan di media lain.
– harus murni buatan sendiri
– minimal 3 halaman letter
– font 12
– format gambar : jpg, png, gif

3. Lomba lukis
suka ngelukis? punya bakat ngelukis? ikutan aja lomba ini
persyaratan : – belum pernah dipublikasikan di media lain.
– harus murni buatan sendiri
– format gambar : jpg, png, gif

4. Lomba fotografi

5. Lomba kreasi barang bekas
yang terakhir ini ditujukan buat kamu-kamu yang suka buat sesuatu dari barang bekas, vas bunga, tempat pensil, dll. silahkan kamu foto, terus upload deh kesini.

persyaratan umum :
1. Peserta adalam member grup Cerita Kita, Kreasi Kita
2. untuk mengikuti lomba ini, kalian bisa langsung upload ke grup atau email ke
vankapramudita@gmail.com dengan subject
a. untuk kategori 1 dan 2 : jenis lomba(spasi)nama(spasi)nama FB(spasi)no yang dapat dihubungi(spasi)genre cerpen
b. untuk kategori 3,4,5 : jenis lomba(spasi)nama(spasi)nomor yang dapat dihubungi(spasi)nama FB(spasi)tema.

3. untuk point 1.b sertakan juga cerita singkat dibalik terbentuknya karya tersebut.

4. penyerahan hasil karya paling lambat tanggal 30 Januari 2012

 

tips menulis novel + diterima penerbit

13 Dec

Tips menulis novel + diterima penerbit

Gimana sih cara nulis novel yang baik? Enggak usah panik ada Farida Susanty jebolan Coaching Cerpen W 2007. Cewek ini juga berhasil menyabet penghargaan bergengsi di dunia sastra, Khatulistiwa Award kategori penulis baru terbaik melalui novel karyanya, Dan Hujan Pun Berhenti. Berikut tips-tips dari Farida yang sebenarnya enggak susah buat diikuti.

1. Untuk tulisan pertama, tulis yang kita tahu dulu saja.
Data dan isi memang penting, tapi usahakan untuk mencari ide dasar yang simple saja. Kalau terlalu rumit, malah malas mulai karena bingung mau nulis apa.

2. Tulis sesuatu yang kita banget.
Kita suka romance? Ya tulis romance, jangan horor. Menulis sesuatu yang kita suka akan bikin kita semangat.

3. Jangan pikirin hasilnya sampai tulisan itu selesai.
Tulisan awal memang selalu jelek. Tapi enggak berarti cerita itu jelek. Kan nanti ada tahap revisi. Pas sudah selesai, baru deh kita edit hal-hal yang enggak banget itu.

4. Cari tahu kebiasaan kita.
Apakah kita lebih produktif nulis pas malam? Atau di tempat terbuka? Pakai aromaterapi, mungkin?

5. Catat ide.
Bawa notes dan pulpen ke mana-mana. Ide bisa datang tiba-tiba, sayang kan kalau sampai lupa karena enggak dicatat?

6. Banyak baca buku penulis-penulis lain dan pelajari cara mereka membentuk dan menyampaikan cerita.

Fiuhh… leganya. Naskah yang sudah kita buat selama berbulan-bulan sekarang sudah selesai. Kita mulai bersandar ke kursi dan berkhayal buku kita diterbitkan. Eits, jangan buru-buru. Sebelum diterbitkan, langkah pertama adalah, kirim dulu ke penerbit. Dan ini aturan-aturan yang perlu kita perhatikan supaya naskah kita yang bagus enggak ditolak.

1. bukan draft pertama
Jangan beri penerbit draft pertama. Sebisa mungkin, edit dulu tulisan kita. Selalu ada yang kurang di draft pertama. Entah ejaan, entah cerita yang setelah dipikir-pikir tidak nyambung, atau yang lainnya. Mengumpulkan komentar orang juga berguna dalam revisi ini. Sayang kan kalau ide kita yang bagus ditolak, cuma karena kurang dipoles dan agak acak-acakan? Beri mereka yang terbaik.

2. identitas lengkap
Cantumkan identitas lengkap kita. Nama, alamat, nomor telepon, pendidikan terakhir, dan kalau ada, prestasi-prestasi kita di dunia tulis menulis.

3. look matters
Pimp your manuscript appearance. Ada editor yang mengaku, dia memilih naskah yang paling rapi dan menarik di antara tumpukan naskah. Jilid yang rapi, jangan cuma di-print atau diikat pakai karet (seriously, this is happen!) Jangan lupa cantumkan nomor halaman dan daftar isi. Perhatikan juga bagaimana syarat-syarat penulisannya. Ada yang ukuran hurufnya harus 12, spasi 1,5. Ada yang cuma 1 spasi. Perhatikan itu baik-baik. Coba cek website penerbit untuk info lebih jelas.

4. sinopsis
Bukan sinopsis seperti yang ada di belakang buku. Sinopsis adalah garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dari mulai, sampai ending. Editor akan lebih mudah memeriksa naskah kita, lebih cepat, sehingga kita bisa cepat tahu apakah naskah kita diterima atau ditolak. Kita enggak usah nunggu lama-lama, cuma karena sang editor bingung dan enggak mengerti bab-bab awal dan bertanya-tanya apa cerita dari naskah kita sebenarnya.

5. pilih penerbit
Ini yang harus ditekankan, jangan salah pilih penerbit. Cari penerbit yang sesuai dengan naskah kita. Kalau naskah kita romance, jangan pilih penerbit yang kita tahu suka menerbitkan cerita detektif. Kalau cerita kita tentang science fiction, jangan cari penerbit komedi. Apakah mungkin naskah kita diterima, kalau silang genre seperti itu? Mungkin saja sih, tapi kemungkinannya kecil. Penerbit biasanya punya prinsip sendiri tentang selera mereka terhadap buku yang akan mereka terbitkan. Dan meskipun naskah kita bagus, penerbit itu akan menolak naskah kita karena beda genre. Sedih kan?

6. datang langsung
Selain dikirim, ada baiknya kita langsung datang ke penerbit. Malah, bisa jadi ini adalah cara yang paling efektif. Kita bisa datang langsung dan mempresentasikan buku kita di depan editor. Bisa juga sambil nanya-nanya langsung ke dia tentang hal-hal yang membuat kita bingung. Yang paling penting, kita bisa meminta nomor HP sang editor, sehingga kita bisa mengontrol naskah kita dan bertanya tentang perkembangannya.

sumber : http://indojaya.com/hobi/menulis-dan-membaca/2047-trik-menulis-novel–sukses-diterima-penerbit.ht

MASIH CINTA

13 Dec

Penat jiwa memeluk indahnya
indah yang hanya di netra sahaja
yang selalu ada meski tak terpinta
sekalipun itu tak nyata tercipta.

Namun tak sanggup ku pungkiri
hanya dirimulah yang ku puja tiada henti
meski derai air mata selalu menitik
hatiku masih berhenti di satu titik.

Sebuah pemberhentian yang selalu ku rindu
di temani bisikan malam yang syahdu
dimana jiwa-jiwa tengah bermadu
lain halnya jiwaku yang hanya mengendus pilu.

Lihatlah aku di sini meski sejenak dalam hitungan hari
yang mungkin telah kau lupakan kini
dalam alunan kisah lalu yang bagimu tak berarti.

Sungguh hati ini sayang padamu
atas nama cinta telah kupersembahkan seluruhnya padamu
namun mengapa kau masih membisu
seolah tak menau akan inginku.

Biarlah bayangmu kan selalu kucumbu
kala hatiku tengah merindu
biarlah namamu kan selalu temani langkahku
meski kini namaku tak lagi duduki singgasana hatimu.

by mamet riyadi

Design a site like this with WordPress.com
Get started